Senin, 30 Desember 2013

SEKETIKA

Aku memandangi benda bersinar redup dihadapanku. Cahayanya masih bersinar sebagaimana yang diharapkan. Beginilah pekerjaanku hampir tiap malam. Kasarnya mungkin bisa disebut sebagai titisan kelelawar, bangun di malam hari dan tidur di siang hari. Terlebih lagi saat malam jumat yang konon menaruh hawa mistis, pasti masa bangunku akan lebih panjang karena ada ritual pemujaan terlebih dahulu.
Untungnya, aku tidak sendiri menjadi titisan kelelawar. Masih ada suamiku yang harus bekerja lebih keras dalam masa bangunnya di malam hari karena harus berkeliling rumah warga dengan wujudnya yang berupa binatang. Sementara aku hanya menunggu dan menjaga tanpa boleh mengalihkan pandangan dari benda bercahaya yang berdiri didalam baskom yang berisi air.
Aku tersentak menyaksikan benda bercahaya itu bergoyang-goyang. Secepat kilat kuhembuskan karbon dioksida melalui mulutku. Seketika api itu padam dan suamiku kini berada dihadapanku dengan jubah hitamnya. Beruntung aku tidak lalai menjaga benda bercahaya itu.
Suamiku tersenyum sebagai tanda kemakhiranku akan tugas ini. Kami pulang dan aku benar-benar tak sabar menyaksikan tumpukan uang dan emas yang tergeletak di dalam kamarku.