Aku
memandangi benda bersinar redup dihadapanku. Cahayanya masih bersinar
sebagaimana yang diharapkan. Beginilah pekerjaanku hampir tiap malam. Kasarnya
mungkin bisa disebut sebagai titisan kelelawar, bangun di malam hari dan tidur
di siang hari. Terlebih lagi saat malam jumat yang konon menaruh hawa mistis,
pasti masa bangunku akan lebih panjang karena ada ritual pemujaan terlebih
dahulu.
Untungnya, aku tidak sendiri menjadi titisan kelelawar. Masih
ada suamiku yang harus bekerja lebih keras dalam masa bangunnya di malam hari
karena harus berkeliling rumah warga dengan wujudnya yang berupa binatang.
Sementara aku hanya menunggu dan menjaga tanpa boleh mengalihkan pandangan dari
benda bercahaya yang berdiri didalam baskom yang berisi air.
Aku tersentak menyaksikan benda bercahaya itu bergoyang-goyang.
Secepat kilat kuhembuskan karbon dioksida melalui mulutku. Seketika api itu
padam dan suamiku kini berada dihadapanku dengan jubah hitamnya. Beruntung aku
tidak lalai menjaga benda bercahaya itu.
Suamiku tersenyum sebagai tanda kemakhiranku akan tugas ini.
Kami pulang dan aku benar-benar tak sabar menyaksikan tumpukan uang dan emas
yang tergeletak di dalam kamarku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar